FOTO GELORA BANDUNG LAUTAN API

gelora5

 

About these ads

KPU Kota Bandung Selenggarakan Pengundian Nomor Urut

BANDUNG, (PRLM).-Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bandung menyelenggarakan Rapat Pleno Terbuka pengundian nomor urut Calon Wali Kota dan Wakil Wali Kota Bandung 2013 di Hotel Grand Pasundan, Rabu (8/5/2013).

 

Hasilnya, nomor urut 1 yaitu pasangan Edi Siswadi-Erwan Setiawan, nomor 2 Wahyudin-Toni Apriliani, nomor 3 Wawan Dewanta-Sayogo, nomor 4 Ridwan Kamil-Oded M. Danial, nomor 5 Ayi Vivananda-Nani Rosada, nomor 6 Iswara-Asep Dedi, nomor 7 Budi Dalton-Rizal Firdaus, dan nomor 8 Bambang Setiadi-Alex Tachsin.

Rapat dipimpin oleh Ketua KPU Kota Bandung Apipudin. Dari jadwal pukul 08.00 WIB, acara ini baru dimulai sekitar pukul 09.45 WIB.

Sumber :  Pikiran Rakyat.com

KPU Perkenalkan Delapan Pasangan Cawalkot Bandung

1205Launching_Pilwalkot

Bandung (tipikorjabar.com) Delapan kandidat pasangan calon Walikota dan Wakil Walikota Bandung periode 2013-2018, menyapa masyarakat Kota Bandung dan para pendukungnya saat launching Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota (Pilwalkot) Bandung 2013-2018 di Monumen Bandung Lautan Api (BLA), Lapangan Tegallega, Jalan Otto Iskandardinata, Kota Bandung, Minggu (12/5/2013).

Acara yang digelar oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bandung itu dihadiri pula oleh Ketua KPU Kota Bandung Apipudin beserta sejumlah komisioner KPU Kota Bandung dan Kapolrestabes Bandung Kombes Pol Abdul Rahman Baso.

 

Kegiatan tersebut bertujuan untuk memperkenalkan para kandidat pasangan Cawalkot dan Cawawalkot Bandung kepada seluruh masyarakat sekaligus sebagai launching dari tahapan sosialisasi Pilwakot Bandung

 

Meski diguyur hujan, namun acara yang digelar oleh KPU Kota Bandung di Lapangan Tegalega ini berlangsung meriah dengan dihadiri kesemua Cawalkot-Cawawalkot Bandung.

 

Ketua KPU Kota Bandung Apipudin menjelaskan, acara tersebut sengaja digelar untuk memperkenalkan para calon kepada masyarakat Kota Bandung.

 

“Selanjutnya nanti KPU akan mengadakan acara serupa di enam daerah pemilihan (dapil) di Kota Bandung,” tuturnya disela-sela acara, Minggu (12/5/2013).

 

Namun, dalan ‘tour’ di enam dapil tersebut pihak KPU tidak akan memaksakan para calon untuk datang. “Kita hanya mengajak dan mengundang sebagai sosialisasi. Kalau gak datang juga gak masalah,” katanya.

 

Acara yang disiarkan disalah satu televisi nasional secara live ini pun berakhir setelah pembawa acara memperkenalkan satu persatu calon beserta partai pendukungnya.

 

Dari pantauan kedelapan pasangan hadir dan maju keatas panggung. Namun dari delapan pasangan tersebut hanya tujuh pasang yang mengenakan seragam orang khas KPU, sedangkan satu pasangan, yakni Bambang Setiadi – Aleh Tahsin Ibrahim dari jalur perseorangan mengenakan pakaian berbeda yaitu kemeja putih.

Selain dihadiri oleh para calon dan pendukungnya. Acara ini juga dihadiri oleh Kapolrestabes Bandung, Plt Sekda Kota Bandung, Panwaslu Kota Bandung, dan beberapa pejabat Kota Bandung lainnya.

Sumber : Media Online Tipikor Jabar

Pemilih Pilwalkot Bandung 1,6 Juta jiwa

KPU: Pemilih Pilwalkot Bandung 1,6 Juta jiwa

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Bandung menetapkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) untuk Pilwalkot Bandung 2013. Menurut KPU, jumlah pemilih adalah 1.658.808 jiwa.

Rinciannya, pemilih laki-laki berjumlah 830.221 jiwa, sedangkan perempuan 828.587 jiwa. Angka itu bertambah dari daftar pemilih sementara (DS) yang jumlahnya 1.641.581 jiwa dengan rincian laki-laki 882.593 jiwa, perempuan 819.988 jiwa.

Jumlah TPS juga mengalami perubahan. Jika sebelumnya 4.117 TPS, kini jadi 4.118 TPS. Dari 4.118 TPS di dalamnya sudah ada 12 TPS khusus di rumah sakit.

Penetapan DPT itu dilakukan dalam rapat pleno terbuka di Hotel Horison, Kota Bandung, Jawa Barat, Rabu (15/5/2013). Rapat dihadiri komisioner KPU Kota Bandung, Panwaslu, PPK, hingga perwakilan tim kampanye kandidat.

“Penetapan DPT hari ini sudah dilalui dengan proses yang panjang,” ujar Ketua Pokja Pemutakhiran Data Pemilih KPU Kota Bandung, Heri Sapari, Rabu (15/5/2013).

Anggota Panwaslu Kota Bandung Epih Ibkar mengatakan, setelah penetapan DPT, pihaknya langsung menginstruksikan petuas PPL dan panwascam untuk mengecek ke lapangan. Sebab dikhawatirkan masih ada pemilih yang tidak terdaftar.

“Kami juga mohon kerjasama dengan tim kampanye. Kalau ada temuan segera lapor PPL, tentu disertai data kependudukan. Jika ada yang belum terdaftar, akan direkomendasikan untuk dimasukan dalam DPT,” jelas Epih.

Pilwalkot Bandung akan diikuti delapan pasangan calon. Setelah pasangan ditetapkan dan mendapat nomor urut beberapa hari lalu, mereka akan menjalani masa kampanye pada 6-19 Juni. Sementara pencoblosan dilakukan pada 23 Juni.

Sumber : Sindonews.Com

Habitat Blekok Sawah dan Kuntul Dilindungi

Gambar

 Pemerintah Kota Bandung menetapkan aturan perlindungan hukum bagi tempat tinggal burung Kuntul Kerbau (Bubulcus ibis) dan Blekok (Ardeola speciosa) di Kampung Rancabayawak, Kelurahan Cisaranten Kidul, Kecamatan Gedebage. Tujuannya, mencegah kedua burung air ini dari kepunahan.

“Kawasan sekitar 600 meter persegi ini ini mendapat perlindungan Peraturan Daerah Kota Bandung No 11 Tahun 2005 tentang Penyelenggaraan Ketertiban, Kebersihan, dan Keindahan Kota Bandung. Dilarang merusak tempat tinggal dan membunuh atau memperjualbelikan kedua jenis burung ini. Bila merusak. Dendanya bisa mencapai Rp 5 juta ditambah sanksi administrasi lainnya,” kata Walikota Bandung Dada Rosada di Cisaranten Kulon, Kota Bandung, Jumat (8/4/2011).

Kuntul Kerbau dan Blekok adalah burung air yang memiliki fungsi ekologi penting di alam, seperti penyerbuk jenis-jenis tumbuhan dan pemangsa hama pertanian tapi populasinya tidak banyak lagi di alam. Kedua burung ini sebelumnya mendapatkan perlindungan dari Undang Undang Nomor 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya.

Sejak tahun 1970, keduanya banyak berkembangbiak di rumpun bambu di Rancabayawak. Secara geografis, Rancabayawak ideal sebagai rumah bagi Blekok dan Kuntul Kerbau karena terletak di antara Sungai Cinambo dan Sungai Cisaranten.

Sumber : Kompas.com

Rancabayawak Layak menjadi Lokasi Wisata di Bandung

Gambar

Gambar

Wakil Walikota Bandung Ayi Vivananda menilai keberadaan burung Belekok Sawah dan  Kuntul Kerbau yang berkembang biak di antara pepohonan bambu di daerah RW 02 Rancabayawak, Kelurahan Cisaranten Kidul, Kecamatan Gedebage, bisa dijadikan sebagai tempat wisata burung.

      Potensi alam tersebut bisa menjadi ikon baru bagi warga Gedebage, umumnya bagi warga Kota Bandung. 
      “Potensi alam ini tentu saja harus kita kembangkan secara optimal sehingga apabila sudah menjadi tempat wisata, masyarakat sekitar bisa mempunyai usaha lain, seperti bidang kuliner dan pariwisata,” katanya sambil memperhatikan burung-burung yang hinggap di pepohonan bambu, Rabu (9/3).
      Kedatangannya ke lokasi tempat berkembang biaknya dua jenis burung tersebut menurut Ayi, merupakan salah satu bentuk perhatian dari Pemerintah Kota Bandung. “Pemkot akan berusaha agar habitat kedua jenis burung tersebut tidak terganggu, apalagi sampai hilang,” katanya.
      Keberadaan lokasi yang berada di daerah pemukiman membuat sedikit kekhawatiran bakal tergusur, sehingga ia akan terlebih dahulu melaporkan kepada Walikota Bandung, dan berkoordinasi dengan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait dan berbicara dengan pengembang agar habitat burung-burung tersebut tidak terganggu. 
      Senada dengan Wakil Walikota, Lurah Cisaranten Kidul, Heni Mustika Sari, pun berharap keberadaan lokasi burung tersebut dapat menjadi aset bagi masyarakat sekitar dan Kota Bandung. 
      Menurutnya, saat ini keberadaan burung-burung tersebut berkisar 1.000 ekor. “Sekarang, mungkin hanya ada dua jenis, sedangkan pada tahun 1970-an di lokasi ini, jenisnya lebih dari dua,” katanya. 
      Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Asian Water Bird, UNPAD dan ITB, daerah Rancabayawak tersebut merupakan tempat persinggahan burung dari belahan dunia lain seperti Cina, Mongol dan Rusia. 
      Di daerah Rancabayawak, ada 4 rumpun bambu yang dijadikan tempat singgahnya burung, 3 diantaranya dijadikan sebagai tempat berkembang biak. “Rumpun yang satu itu tidak dijadikan tempat berkembang biak, karena burung-burung merasa terganggu oleh tangan-tangan jahil, warga tidak bisa menjaga rumpun bambu ini karena jauh dari pemukiman,” kata Heni. 
       Warga sekitar lokasi, menurutnya, sangat melindungi keberadaan burung-burung tersebut, bahkan apabila ada yang akan mengganggu, masyarakat akan dengan serta merta mengingatkannya. “Alhamdulillah warga di sekitar sini, ikut membantu menjaga keberadaan burung-burung ini dari tangan-tangan jahil,” katanya.
       Sementara itu, menurut Tatang Safaat salah satu warga, keberadaan burung-burung tersebut awalnya tidak sengaja, tetapi lama-kelamaan menjadi banyak seperti saat ini. Dia berharap keberadaannya dapat terus dijaga dan dilestarikan. 
      “Biasanya burung-burung itu tiap pagi beterbangan mencari makan, kemudian sore sekitar pukul 17.00 sore kembali lagi ke sini, saat mereka datang dan pergi itu saat-saat yang bagus untuk dilihat,” ujarnya

Sumber : (MC. Diskominfo Kota Bandung/toeb)

Bebas Pajak Dinaikkan

Bebas Pajak Dinaikkan: Penghasilan tidak Kena Pajak Jadi Rp 2,02 Juta

Oleh   /   Selasa 13 November 2012  /   Tanggapi?

Pemerintah memastikan menaikkan penghasilan tidak kena pajak efektif pada 1 Januari 2013, dari Rp 15,48 juta per tahun menjadi Rp 24,3 juta per tahun. Pembebasan penghasilan tidak kena pajak ini belum termasuk skema bagi yang berstatus kawin.

 

keuangan LSM

Pemerintah memastikan menaikkan penghasilan tidak kena pajak

Penghasilan Tidak Kena Pajak Jadi Rp 2,02 Juta

Jakarta-KOMPAS – Pemerintah memastikan menaikkan penghasilan tidak kena pajak efektif pada 1 Januari 2013, dari Rp 15,48 juta per tahun menjadi Rp 24,3 juta per tahun. Pembebasan penghasilan tidak kena pajak ini belum termasuk skema bagi yang berstatus kawin.

Kenaikan penghasilan tidak kena pajak (PTKP) itu ditetapkan melalui Peraturan Menteri Keuangan Nomor 162/PMK.011/2012 tentang Penyesuaian Besarnya PTKP. Penjelasan berikut skemanya disosialisasikan Direktorat Jenderal Pajak melalui siaran pers, Sabtu (10/11).

Nilai PTKP yang berlaku per 1 Januari 2013 adalah Rp 15,84 juta per tahun. Bagi wajib pajak (WP) berstatus kawin dan atau mempunyai tanggungan mendapatkan   tambahan pembebasan pajak.

WP berstatus kawin mendapat tambahan pembebasan pajak Rp 2,02 juta per bulan. WP memiliki suami atau istri bekerja tetapi pelaporan pajak tahunannya menjadi satu mendapat tambahan pembebasan pajaknya senilai Rp 24,3 juta per tahun. Untuk setiap tanggungan, maksimal tiga orang pembebasan pajaknya senilai Rp 2,02 juta per orang per bulan.

Pemerintah memastikan menaikkan penghasilan tidak kena pajak efektif pada 1 Januari 2013, dari Rp 15,48 juta per tahun menjadi Rp 24,3 juta per tahun. Pembebasan penghasilan tidak kena pajak ini belum termasuk skema bagi yang berstatus kawin.

Direktur Pelayanan Penyuluhan dan Hubungan Masyarakat Ditjen Pajak Kismantoro Petrus dalam siaran pers menyebutkan pertimbangan pemerintah menaikkan PTKP adalah perkembangan ekonomi dan moneter serta meningkatnya harga kebutuhan pokok. Langkah itu juga diperlukan guna mengantisipasi perlambatan ekonomi global yang berpotensi menurunkan daya beli masyarakat.

“Kenaikan PTKP diharapkan meningkatkan daya beli masyarakat sehingga akan berdampak pada peningkatan produk domestik bruto nasional, baik melalui konsumsi maupun peningkatan tabungan,” kata Kismantoro.

Menggulirkan Ekonomi

Secara terpisah, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Ahmad Erani Yustika menyatakan, kenaikan PTKP akan meningkatkan pendapatan riil golongan masyarakat bawah, khususnya buruh dan pedagang di sektor informal. Bertambahnya pendapatan itu akan digunakan untuk konsumsi sehingga menggulirkan kegiatan ekonomi secara keseluruhan.

Namun, pada saat yang sama, Erani berpendapat, semestinya pemerintah juga mengeluarkan kebijakan pajak yang lebih progresif untuk WP masyarakat kaya. Saat ini, penghitungan pajak progresif maksimal berhenti pada kategori pendapatan Rp 500 juta per tahun ke atas dengan pajak 35 persen.

Padahal, Erani melanjutkan, 50 persen nilai tabungan di perbankan disumbang oleh rekening di atas Rp 5 miliar. Jumlahnya hanya 0,04 persen dari total rekening. Artinya, pajak progresif layak dibuat untuk beberapa skema pendapatan di atas Rp 500 juta per tahun agar berkeadilan.

“PTKP sudah naik. Artinya, daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah meningkat. Jika ini dibarengi pajak progresif yang dibuat lebih progresif, akan ada pertemuan dua kutub yang akan menyebabkan gerak ekonomi semakin cepat. Syaratnya, penerimaan pajak harus digunakan untuk belanja sosial atau infrastruktur,” kata Erani. (LAS)

Sumber: KOMPAS, Senin, 12 November 2012, Halaman: 17.