Rancabayawak Layak menjadi Lokasi Wisata di Bandung

Gambar

Gambar

Wakil Walikota Bandung Ayi Vivananda menilai keberadaan burung Belekok Sawah dan  Kuntul Kerbau yang berkembang biak di antara pepohonan bambu di daerah RW 02 Rancabayawak, Kelurahan Cisaranten Kidul, Kecamatan Gedebage, bisa dijadikan sebagai tempat wisata burung.

      Potensi alam tersebut bisa menjadi ikon baru bagi warga Gedebage, umumnya bagi warga Kota Bandung. 
      “Potensi alam ini tentu saja harus kita kembangkan secara optimal sehingga apabila sudah menjadi tempat wisata, masyarakat sekitar bisa mempunyai usaha lain, seperti bidang kuliner dan pariwisata,” katanya sambil memperhatikan burung-burung yang hinggap di pepohonan bambu, Rabu (9/3).
      Kedatangannya ke lokasi tempat berkembang biaknya dua jenis burung tersebut menurut Ayi, merupakan salah satu bentuk perhatian dari Pemerintah Kota Bandung. “Pemkot akan berusaha agar habitat kedua jenis burung tersebut tidak terganggu, apalagi sampai hilang,” katanya.
      Keberadaan lokasi yang berada di daerah pemukiman membuat sedikit kekhawatiran bakal tergusur, sehingga ia akan terlebih dahulu melaporkan kepada Walikota Bandung, dan berkoordinasi dengan satuan kerja perangkat daerah (SKPD) terkait dan berbicara dengan pengembang agar habitat burung-burung tersebut tidak terganggu. 
      Senada dengan Wakil Walikota, Lurah Cisaranten Kidul, Heni Mustika Sari, pun berharap keberadaan lokasi burung tersebut dapat menjadi aset bagi masyarakat sekitar dan Kota Bandung. 
      Menurutnya, saat ini keberadaan burung-burung tersebut berkisar 1.000 ekor. “Sekarang, mungkin hanya ada dua jenis, sedangkan pada tahun 1970-an di lokasi ini, jenisnya lebih dari dua,” katanya. 
      Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Asian Water Bird, UNPAD dan ITB, daerah Rancabayawak tersebut merupakan tempat persinggahan burung dari belahan dunia lain seperti Cina, Mongol dan Rusia. 
      Di daerah Rancabayawak, ada 4 rumpun bambu yang dijadikan tempat singgahnya burung, 3 diantaranya dijadikan sebagai tempat berkembang biak. “Rumpun yang satu itu tidak dijadikan tempat berkembang biak, karena burung-burung merasa terganggu oleh tangan-tangan jahil, warga tidak bisa menjaga rumpun bambu ini karena jauh dari pemukiman,” kata Heni. 
       Warga sekitar lokasi, menurutnya, sangat melindungi keberadaan burung-burung tersebut, bahkan apabila ada yang akan mengganggu, masyarakat akan dengan serta merta mengingatkannya. “Alhamdulillah warga di sekitar sini, ikut membantu menjaga keberadaan burung-burung ini dari tangan-tangan jahil,” katanya.
       Sementara itu, menurut Tatang Safaat salah satu warga, keberadaan burung-burung tersebut awalnya tidak sengaja, tetapi lama-kelamaan menjadi banyak seperti saat ini. Dia berharap keberadaannya dapat terus dijaga dan dilestarikan. 
      “Biasanya burung-burung itu tiap pagi beterbangan mencari makan, kemudian sore sekitar pukul 17.00 sore kembali lagi ke sini, saat mereka datang dan pergi itu saat-saat yang bagus untuk dilihat,” ujarnya

Sumber : (MC. Diskominfo Kota Bandung/toeb)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s